Artikel

RELASI KIAI DAN MASYARAKAT

Disebutkan bahwa kiai-kiai pesantren adalah makelar budaya yang berperan stretegis dalam membangun kultur dan tatanan sosial. Kiai pesantren memang tidaklah memiliki dimensi lain diluar ekspetasi itu. Orang-orang pesantren, dengan penuh keyakinan hati berpikir bahwa kiai adalah mega bintang dalam kehidupan sosial. Masyarakat memiliki jiwa fanatisme tinggi terhadap kiai. Tidak sedikit lapisan masyarakat bawah yang terdorong jika martabat dan harga diri seorang kiai dinistakan. Kadang-kadang masyarakat tidak berpikir panjang, jika ada sebuah opini yang mendiskreditkan martabat dan harga diri seorang kiai. Masyarakat bahkan siap turun jalan, ambil bagian dan mencurahkan jiwa raganya untuk membela seorang kiai.
Kiai-kiai pesantren memiliki dimensi instimewa di tengah-tengah masyarakat. Kiai dinobatkan sebagai tokoh, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai orang tua, sebagai tempat berkeluh kesah serta titik istimewa lainnya. Dengan kapasitas intelektuanya yang tinggi, kiai dianggap paripurna dalam segala bidang. Masyarakat yakin kiai memiliki konsentrasi tinggi dalam membina moralitas dan kualitas masyarakat. kiai diyakini tak pernah henti-henti mendoakan umat dan santrinya agar menjadi pribadi yang berilmu luas, beriman, bertakwa serta menjadi figur yang berguna bagi masyarakat. Kiai-kiai pesantren tidak boleh dilihat sebagai figur dengan atribut penuh kemewahan, penuh fasilitas dan hidupnya penuh kenikmatan. Dalam hal ini masyarakat harus paham bahwa dibalik pundak seorang kiai, terpikul beban berat untuk membimbing masyarakat.
Meskipun orang-orang pesantren memandang kiai sosok yang luar biasa. Toh, para kiai-kiai pesantren tetaplah pribadi yang tidak suka dikultuskan. Kiai sebagai manusia biasa, tidaklah lepas dari segala bidang yang menyertainya sebagai komunitas sosial.


Saat ini orang dengan primatur memojokkan kiai-kiai pesantren dengan tanpa beban apapun. Komentarnya dimedia sosial buruk, tidak mencerminkan etika dan sopan santun. Mereka lupa bahwa kiai adalah panutan masyarakat. Jika terjadi hal-hal yang kurang berkenan terhadap martabat seorang kiai, maka tidak mustahil akan menimbulkan gejolak sosial sebagaimana terlihat dewasa ini. Potensi krisis sosial itu, jelas sebagai sinyal bahwa kiai pesantren adalah jantung dan ruh lahir batin bagi masyarakat. Harga diri seorang kiai, tidaklah layak dilecehkan secara tragis di media sosial. Karena apa? Karena media sosial merupakan arena bebas komentar. Jika sesuatu yang menyangkut martabat dan harga diri seorang kiai dipublikasikan ke media sosial, maka jelaslah hal itu memang terdapat unsur kesengajaan. Dengan demikian, santri, masyarakat dan lapisan alumni tidak akan tinggal diam. Secara etika, alumni dan masyarakat merasa berkewajiban untuk mengambil langkah-langkah taktis yang diperlukan. Selain itu secara moral, seorang alumni, lapisan masyarakat dan pihak-pihak lain, merasa terpanggil dalam satu komando untuk merapat dalam satu barisan guna mencegah gejala yang tidak positif terkait dengan perilaku bullying mereka. Namun, tetap menggunakan logika rasional, bukan emosional.
Bullying terhadap kiai saat ini, memang sedang marak dimana-mana. Kiai seakan menjadi sasaran empuk kelompok orang premanistik dewasa ini. Mereka menggunakan sarana media sosial yang dianggap praktis untuk mencoreng citra seorang kiai. Padahal mereka tahu efek dominan yang ditimbulkan dibalik ganasnya media sosial.
Kita merasa prihatin atas maraknya peristiwa pelecehan terhadap martabat seorang kiai. Perilaku pelecehan atas martabat kiai saat ini memang sedang menemukan momentumnya. Entah harus diriset dengan metodelogi apa. Apa yang menyebabkan galakanya peristiwa bullying saat ini pada kiai. Yang jelas, upaya bullying pada harga diri seorang kiai tidaklah layak dilakukan oleh siapapun. Mereka lupa bahwa kiai adalah pewaris para nabi? Lalu yang mereka yang melecehkan martabat kiai itu pewaris siapa? Pewaris iblis? Tidak jelas!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *