Artikel

RITUAL CINTA DALAM PERAYAAN MAULID

Maulid nabi merupakan perayaan yang didasarkan atas kecintaan umat Islam pada nabinya. Perayaan maulid nabi lahir sebagai bentuk ekspresi kecintaan yang tinggi atas lahirnya figur manusia yang membawa risalah ilahiyah ke muka bumi. Nabi jelas tidak pernah menyuruh umatnya merayakan hari kelahirannya secara langsung, oleh karenanya kita tidak bisa menemukan dalil maulid nabi secara tersurat dalam lembaran kitab suci atau dalam hadits nabi. Kalaupun ada tentu prakteknya tidak sama seperti perayaan maulid nabi yang kita kenal saat ini.

Dalam hal cinta, umat Islam tidak perlu dalil yang rinci soal bagaimana mereka harus mengungkapkan perasaan cintanya kepada Nabinya. Ekspresi cinta umat Islam pada Nabinya muncul karena keimanan yang kuat didalam dada mereka, maka kubu salafi yang selalu mengusik cara umat Islam dalam merayakan maulid nabi sebenarnya tidak paham hakikat cinta umat Islam pada Rasulullah. Meskipun mereka selalu mengaku paling sunnah, tapi sejatinya mereka tertutup hati dan pikirannya dalam menghayati makna iman pada Rasulullah yang sebenarnya.

Sejak dulu, sejarah sudah menuturkan bahwa perayaan maulid nabi telah dimulai oleh seorang raja yang adil, dermawan dan cinta pada Rasulullah. Kalau seandainya perayaan maulid nabi itu menyimpang tentu sudah sejak awal ulama melarang praktek ini, bukan malah disemarakkan dengan ritual besar yang menggugah jiwa umat Islam, membuat umat Islam semakin meninggi rasa rindunya pada nabinya. Dalam kitab Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Ibnu Katsir menceritakan tentang sosok raja yang merayakan maulid nabi serta peran seorang ulama dalam kemeriahan maulid nabi itu. Perhatikan keterangan dibawah ini;

قلت : أما صاحب إربل، فهو الملك المظفر أبو سعيد كوكبري ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الأجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد، له آثار حسنة وقد عمر الجامع المظفري بسفح قاسيون، وكان قد هم بسياقة الماء إليه من ماء بذيرة فمنعه المعظم من ذلك، واعتل بأنه قد يمر على مقابر المسلمين بالسفوح، وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا، وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه، وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه: “التنوير في مولد البشير النذير “، فأجازه على ذلك بألف دينار، وقد طالت مدته في الملك في زمان الدولة الصلاحية وقد كان محاصر عكا وإلى هذه السنة محمود السيرة والسريرة.
.
Aku (Ibnu Katsir) katakan : Adapun penguasa Irbil, maka dialah Raja Mudzhaffar Abu Sa’id Kaukabari Bin Zainuddin ‘Ali Bin Tabaktakin yang dikenal dermawan, pemimpin hebat dan seorang raja yang mulia. beliau memiliki banyak riwayat kebaikan yang diantaranya adalah pembangunan Masjid Jami’ Al-Mudzhaffari di lembah Qasiyun, beliau pernah berkeinginan untuk mengalirkan air ke masjid tersebut dari sumber mata air, namun kebanyakan masyarakat tidak menyetujuinya dikarnakan hal itu melewati area pemakaman kaum muslimin disekitar lembah tersebut, beliau juga terbiasa mengadakan acara maulid (Nabi) yang mulia pada bulan Rabi’ul Awwal dengan perayaan yang luar biasa megah, dan selain itu beliau adalah seorang pemberani dan tangguh, cerdas, bijaksana dan juga adil. Semoga Allah memberikan Rahmat beserta tempat yang mulia kepadanya, dan sungguh Syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi yang dinamakanya “At-Tanwir Fii Maulid Al-Basyir An-Nadzir”, lalu diberikan hadiah karna usahanya itu (oleh Raja Mudzhaffar) sebesar 1000 dinar, masa pemerintahanya begitu panjang hingga pada zaman ketika bergabung dengan Dinasti Shalahiyyah (Pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi), beliau ikut serta dalam pengepungan (tentara salib) di kota Akka. dan hingga kinipun beliau senantiasa terpuji kisah hidupnya dan juga jiwanya.
.
[Al-Bidayah Wa An-Nihayah : Jilid 13, Halaman 167].

Ibnu Katsir dalam keterangannya diatas sama sekali tidak mempersoalkan tradisi maulid nabi yang digelar oleh raja mudzaffar, bahkan beliau memuji kebiasaan raja tersebut. Sebagai pakar sejarah berkelas, Ibnu Katsir sangat mengerti bahwa sejarah maulid nabi tidak pernah digelar di era nabi maupun sahabat nabi. Tapi ketika raja mudzaffar memulai tradisi ini, perbuatan beliau justru menginspirasi generasi umat Islam setelahnya untuk melakukan ritual maulid dengan beragam makna. Pergelaran maulid nabi sendiri oleh banyak ulama dari lintas madzhab dianggap bid’ah, tapi bid’ah yang baik. Ulama rujukan Wahabi sendiri seperti Ibnu Taimiyah menilai bahwa maulid nabi adalah sebuah perbuatan yang agung.

Nyaris tidak ada komentar ulama yang buruk tentang maulid, baru belakangan ada neo-khawarij yang memandangnya sebagai bid’ah yang butuk. Neo-khawarij ini sebenarnya melihat maulid nabi dari satu sisi yang tak jelas, tapi melupakan berbagai sisi yang lain yang lebih terang. Mereka tidak mengerti bahwa dalam maulid nabi ada ritual cinta yang besar yang menghubungkan kedekatan umat Islam dengan nabinya.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *