Artikel

SAATNYA MENJAGA LIDAH, MERAWAT UKHWAH

Beberapa hari terakhir jagad sosial media kembali panas dengan merebaknya ujaran kebencian terhadap HRS setelah kepulangannya beberapa waktu yang lalu. Dari maraknya ujaran tak terpuji itu yang banyak disoroti mungkin adalah sebuah video penghinaan yang dilakukan perempuan terkenal di dunia selebriti berinisial NM. Perbuatannya itu tentu mendatangkan reaksi dari sejumlah netizen. Di tengah merebaknya ujaran kebencian di sosial media itu, hal paling penting yang barangkali harus dijaga, dirawat dan diwaspadai saat ini oleh umat millenial adalah lidah. Sebab lidah akan mudah menjatuhkan seseorang pada persoalan berat yang harus ditanggung di dunia dan akhirat. Memang menjaga lidah untuk tidak mudah mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan keresahan dijagad media seolah sulit dewasa ini. Seringkali kemauan lidah untuk nyinyir dan mem-bully datang secara spontan saat melihat ada yang tidak sesuai dengan pandangan pribadi.

Seharusnya kita mampu menahan kemauan lidah yang gatal ketika melihat situasi panas, sebab dengan menahan lidah berarti kita telah berjihad melawan ego serta mempersempit munculnya kegaduhan, fitnah dan kontroversi yang lebih berbahaya. Pada dasarnya kunci untuk menahan lidah dari ujaran-ujaran yang merugikan orang lain harus dimulai dari upaya membangun kesadaran hati bahwa siapapun yang tidak sepaham dengan kita pada hakikatnya adalah saudara kita juga. Meski tidak ada ikatan darah, barangkali dia setanah air, atau bahkan seagama. Hal ini penting kita usahakan untuk menghidupkan ukhwah agar pertentangan tidak membuat kita terbelah. Disamping itu, penting pula kita mengoreksi kekurangan diri sendiri serta peka dalam memahami kekurangan orang lain.

Lidah bentuknya memang kecil, tapi pengaruhnya tentu sangat besar. Lidah menjadi simbol dari isi hati seseorang. Menjaganya terutama di musim fitnah seperti sekarang tentu lebih penting daripada sekedar ibadah sunnah yang ditunaikan karena kegemaran. Para ulama sufi mengatakan:
اﻟﺘﺨﻠﻴﺔ ﻣﻘﺪﻣﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﺤﻠﻴﺔ
Menghindari sifat-sifat tercela itu lebih didahulukan daripada menghiasi sifat-sifat terpuji”

Lidah harus diwaspadai agar tidak liar dalam mengeluarkan kata-kata tak sedap. Sebab ibadah puasa dan sholat yang kita tunaikan sepanjang waktu tidak akan berarti apa-apa jika lidah masih gemar meluapkan caci maki, ghibah dan kata-kata kotor pada teman kita di dunia nyata dan sosial media. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Al-Baihaqi dalam kitab syu’bal iman disebutkan:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ – ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻗﺎﻝ: «ﻗﺎﻝ ﺭﺟﻞ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ! ﺇﻥ ﻓﻼﻧﺔ ﺗﺬﻛﺮ ﻣﻦ ﻛﺜﺮﺓ ﺻﻼﺗﻬﺎ ﻭﺻﻴﺎﻣﻬﺎ ﻭﺻﺪﻗﺘﻬﺎ، ﻏﻴﺮ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺆﺫﻱ ﺟﻴﺮاﻧﻬﺎ ﺑﻠﺴﺎﻧﻬﺎ. ﻗﺎﻝ: ” ﻫﻲ ﻓﻲ اﻟﻨﺎﺭ “. ﻗﺎﻝ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ! ﻓﺈﻥ ﻓﻼﻧﺔ ﺗﺬﻛﺮ ﻗﻠﺔ ﺻﻴﺎﻣﻬﺎ ﻭﺻﺪﻗﺘﻬﺎ ﻭﺻﻼﺗﻬﺎ ﻭﺇﻧﻬﺎ ﺗﺼﺪﻕ ﺑﺎﻷﺛﻮاﺭ ﻣﻦ اﻷﻗﻂ ﻭﻻ ﺗﺆﺫﻱ ﺑﻠﺴﺎﻧﻬﺎ ﺟﻴﺮاﻧﻬﺎ ﻗﺎﻝ: ” ﻫﻲ ﻓﻲ اﻟﺠﻨﺔ» “. ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ ” ﺷﻌﺐ اﻹﻳﻤﺎﻥ “.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah -Radhiyallâhu ‘anhu- beliau berkata: “Seseorang mengadukan: Ya Rasûlallâh! Si fulanah dikabarkan banyak shalat, berpuasa, dan bersedekah (sunnah), tapi lisannya menyakiti tetangganya. Rasulullah menjawab: Dia di neraka.

Laki-laki itu mengadukan lagi: Ya Rasûlallâh! Si fulanah yang lain dikabarkan sedikit puasa, sedekah, maupun shalat (sunnah)nya. Hanya saja ia bersedekah dengan beberapa potong keju, dan lisannya tidak menyakiti tetangganya? Rasulullah menjawab: Dia di surga” HR. Imam Ahmad dan al-Imam al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.

Hadits ini menjelaskan bahwa ibadah puasa, sholat, shodaqah bukan jaminan pelakunya akan selamat dari kobaran api neraka jika lidahnya masih sering mengotori harga diri orang lain. Berdasarkan hadits ini ibadah tidak sesempit cara pandang masyarakat pada umumnya. Justru ibadah memiliki makna yang luas. Menjaga lidah merupakan bagian dari ibadah yang harus lebih diprioritaskan daripada sekedar ibadah-ibadah sunnah. Para ulama telah memberi tauladan yang sangat baik dalam hal ini seperti yang dikemukakan Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang masyhur akan keadilannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Tamhid, karya Al-Hafidz Ibnu ‘Abdi Al-Barr:

قال عمر بن عبد العزيز رحمه الله
أدركنا السلف وهم لا يرون العبادة في الصوم ، ولا في الصلاة، ولكن في الكف عن أعراض الناس، فقائم الليل وصائم النهار؛ إن لم يحفظ لسانه ؛ أفْلَس يوم القيامة. كتاب التمهيد ج ١٧ ص ٤٤٣

Umar bin Abdul Aziz (W. 101 H): “Kami menemukan para salaf, mereka memandang bahwa ibadah bukan hanya sebatas pada puasa dan shalat. Tapi, mereka melihat bahwa ibadah yang sesungguhnya ada pada menahan diri untuk tidak mencaci manusia. Adapun orang yang bangun malam untuk ibadah, dan orang yang berpuasa, jika ia tidak menjaga lisannya, maka ia akan bangkrut di hari kiamat” Kitab At-Tamhid karya Al-Hafidz Ibnu ‘Abdi Al-Barr (W. 463 H) jilid 17 hal 443.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *