Artikel

SANDANG AMANAH DARI AL-IMAM AL-GHAZALI UNTUK SANTRI

Ibarat fisik, suplemen rohani santri terhadap guru harus selalu dipupuk agar tumbuh dan berkembang hingga dapat dipetik buah berkahnya. Rohani manusia, termasuk santri tidak akan kering dan gersang jika penataan terhadap spiritualisme moral dijaga. Termasuk kesungguhan dalam menjaga akhlak terhadap guru. Guru posisinya tidak dapat diganggu dan harus selalu ditiru.Dinasihatkan oleh Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 431) sebagai berikut:

آداب المتعلم مع العالم: يبدؤه بالسلام ، ويقل بين يديه الكلام ، ويقوم له إذا قام ، ولا يقول له : قال فلان خلاف ما قلت ، ولا يسأل جليسه في مجلسه ، ولا يبتسم عند مخاطبته ، ولا يشير عليه بخلاف رأيه ، ولا يأخذ بثوبه إذا قام ، ولا يستفهمه عن مسألة في طريقه حتى يبلغ إلى منزله، ولا يكثر عليه عند ملله.

Artinya: “Adab murid terhadap guru, yakni: mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah.”

***

Zaman boleh berganti dan kecanggihan boleh pesat, akan tetapi nilai-nilai kesantunan, etika, moral dan akhlak terhadap guru tidak boleh luntur. Kita bersyukur karena modernisasi dapat mempermudah segalanya termasuk komunikasi, tapi hal itu tidak boleh menggeser posisi santri dalam menjaga etika atas guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *