Artikel

SAYIKHONAN KHOLIL, NU, WALI SONGO DAN PROYEK DAKWAH

Meskipun Syaikhona Kholil bin Abdul Latif Bangkalan tidak terlibat secara konsep dan administrasi dalam proses berdirinya NU, namun beliau merupakan tokoh sentral dibalik arah dan berdirinya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan Dunia itu. Beliau memberikan garansi inspiratif dan dorongan spiritual atas berdirinya NU lewat KH. As’ad Samsul Arifin Situbondo yang juga santri dekat beliau.
KH. As’ad Samsul Arifin diutus Syaikhona untuk menghadap KH. Muhammad Hasyim Asy’ari ke Jombang untuk mengantarkan tongkat dan wasiat “ya jabbar ya qahhar”. Pesan tersebut disambut hangat oleh KH. Muhammad Hasyim dengan firasat bahwa inisiatif untuk mendirikan NU sudah mendapatkan restu dari sang gurunya. Itulah sebabnya, kenapa KH. Muhammad Hasyim Asyari tak sungkan dan ragu-ragu untuk mendirikan NU. Dorongan spiritual itulah yang kemudian menjadi azimat besar dibalik berdirinya NU. Segera setelah NU berdiri, organisasi tradisional itu maju pesat karena mendapatkan sambutan hangat dari para kiai-kiai pesantren yang notabeni masih santrinya Saikhona. Di Jawa dan Madura, NU merupakan tali pengikat terkuat dalam menjalankan setiap aspek kegiatan keagamaan dan sosial politik. Orang-orang Madura, lebih lantang menyebutkan NU sebagai agama dibanding dengan lainnya. Inilah mungkin kenapa NU begitu mengakar dan bertaji di pulau garam ini.


Di Jawa, secara umum NU menjadi garis pemikiran, arah, sikap, tujuan, dan segala tindak langkah yang akan dilakukannya. Hal ini terjadi karena akar NU diproduksi di pondok pesantren sebagai basis moralitas sosial dan keagamaan. Masyarakat akar rumput NU begitu takjub dengan ketulusan, ketekunan, kesungguhan dan kebersihan hati dan jiwa tokoh-tokoh NU. NU yang berdiri 31 Januari 1926 bergerak menghiasi jagad pemikiran politik bangsa dan negara. Tokoh-tokoh NU selain bergerak dibidang pendidikan keagamaan, mengasuh pesantren, menjadi guru agama, juga secara konsisten dan intensif terlibat dalam proses dinamika politik nasional. Bagi ulama dan tokoh-tokoh NU, perjuangan ke medan politik dianggap sentral dan karena terkait dengan hajat hidup masyarakat luas. Jika arah kebijakan negara cenderung merugikan masyarakat, maka NU secara moral juga merasa berdosa. Karena itu, berjuang dimedan politik, tentu dengan skill profesionalisme dan integritas juga merupakan sarana ibadah yang berpahala besar meskipun harus ditempuh dengan penuh penderitaan dan kegetiran.


Syaikhona Kholil Bangkalan tokoh kunci NU itu memiliki sejumlah kesaktian, orang-orang NU menyebutkan dengan istilah karomah. Banyak sekali karomah yang beliau memiliki, dan sudah dibukukan antara lain dalam buku yang berjudul “Surat Kepada Anjing Hitam”. Buku tersebut merupakan antologi karomah Saikhona Kholil yang ditulis oleh Saifur Rahman. Buku tersebut terbilang laris dan menyita perhatian warga NU yang tertarik untuk berlabuh lebih jauh lagi dalam sepak terjang Ulama Madura tersebut. Untuk menuangkan karomah beliau, tulisan ini begitu terbatas. Namun sekelumit karomah beliau kami cantumkan di dalam tulisan ini:
“Warga di sekitar Bangkalan terjadi percekcokan sengit. Beduk yang selama ini digunakan asal tanda masukanya sholat, tidak gugat. Sekelompok orang menyatakan pemakaian beduk adalah bidah. Bidah adalah sesuatu yang baru dalam agama. Maksudnya sesuatu yang baru yang belum dicontohkan pengamalannya oleh Rasulullah. Jadi, beduk harus dibuang, diberantas, tidak boleh ada dimasjid. Sekelompok lainnya, berpendapat beduk tidak tergolong bidah. Beduk hanya sekedar alat, tidak masuk dalam ritual Islam”.
Silang pendapat mengenai hukum beduk tidak bisa dihindari. Mereka sama-sama mempertahankan pendiriannya masing-masing. Satu sama lain tidak ada yang mengalah.
Melihat para pihak tidak ada tanda-tanda kesepakatan, salah seorang mengusulkan penyelesaian mendatangi Kiai Kholil. Mereka menyerahkan keputusannya kepada Kiai Kholil, karena dianggap tokoh sepuh yang dapat dipercaya, sangat alim dan bijaksana, serta disegani masyarakat Bangkalan. Akhirnya, mereka beramai-ramai mendatangi Kiai Kholil.
Beberapa puluh meter mendekati pesantren, Kiai Kholil sudah menunggu kedatangan mereka. Kiai seakan-akan sudah mengetahui apa maksud kedatangan mereka.
Setibanya rombongan bermasalah di pesantren, Kiai Kholil langsung menyuruh beberapa santri meminjam beduk ke kepala desa .
Tidak begitu lama datanglah beduk yang cukup besar dibawa ke hadapan Kiai Kholil. Tanpa berbicara sepatah katapun, Kiai langsung mengambil pemukul beduk, lalu menabuh sendiri berkali-kali dengan kencangnya.


Melihat demontrasi Kiai dihadapan warga yang bermasalah, maka terjawab sudah. Beduk yang selama ini diyakini sebagai bidah, ternyata jawaban Kiai Kholil berbeda. Beduk boleh dipakai, tidak tergolong bidah. Rombongan bermasalah tersebut merasa puas. Mereka pulang ke daerahnya masing-masing. Masing-masing tanpa timbul percekcokan lagi.
Demikianlah sekelumit kesaktian Saikhona sebagaimana ditulis dalam buku yang berjudul Surat Kepada Anjing Hitam karya Saifur Rahman.


Saikhona Kholil merupakan representasi dan implementasi dari ajaran Wali Songo. Selain karena beliau merupakan anak cucunya, Saikhona Kholil juga turut serta dalam proses pelestarian ajaran Aswaja yang diajarkan dan dikembangkan oleh Wali Songo. Wali Songo, tepat pada lima ratusan tahun yang lalu berekspedisi ke Nusantara. Wali Songo bergerak dalam pembinaan dan perjuangan agama Islam yang ramah dan sejuk. Mereka itulah yang telah mewariskan Islam rahmatan lil alamin yang dikembangkan oleh pesantren-pesantren NU diberbagai kawasan di Indonesia. Jasa Wali Songo dalam mengembangkan Islam ramah terbilang sangat canggih dan tanpa teori pendidikan modern apapun. Wali Songo hanya bermodalkan teori kesungguhan dan kebersihan hati dalam menegakkan ajaran Islam. Selain itu, wali bersikap arif dan bijaksana dalam menjalankan dakwanya. Wali tidak bersifat arogan terhadap budaya, tradisi, adat istiadat dan kecendrungan masyarakat lokal yang ada. Budaya dan tradisi yang ada justru dijadikan sebagai pioner untuk menyalurkan potensi dakwah lebih agresif dan menyerap. Wali tidak terpaku dengan konsep Islam dan indoktrinasi. Bagi wali, konsep-konsep Islam itu haruslah diterapkan dalam konteks dan kandisi lokalistik. Sehingga masyarakat dapat terserap dalam ajaran Islam tanpa huru-hara simbol agama.
Wali Songo merupakan komunitas manusia terbaik yang pernah singgah di Indonesia sebagai pembawa risalah agama. Mereka dalam mengelola masyarakat Nusantara yang terlanjur Hindu-Budha dengan waktu relatif singkat dapat membangun perubahan ke arah yang lebih baik . Wali Songo tidak butuh waktu lama untuk melihat masyarakat Nusantara berperilaku islami tanpa proyeksi doktrin.


Kehebatan Wali Songo inilah yang mesti dijadikan parameter oleh generasi muda, khususnya yang tertarik dibidang pendidikan dan perjuangan dakwah. Dakwah Wali Songo lebih dahsyat dibanding sebilah pedang. Wali Songo tidak menggunakan kilatan pedang dalam menyebarkan agama, tapi menggunakan kesantunan dan ketekunannya dalam menjalankan misi dakwah.


Berbeda dengan sekelompok generasi baru yang sekonyong-konyong hadir untuk menerapkan Islam kaffah (komprehensip). Dalih itulah yang memesona berbagai lapisan orang tanpa melakukan koreschek terhadap motif yang mendorongnya (eksplanasi). Wali Songo memiliki kedalaman ilmu dan dapat memperhitungkan dengan baik prospek dakwahnya yang diperjuangkan. Karenaya Wali Songo menggunakan metodologi akomodatif dalam berdakwah. Tidak teriak-teriak kebenaran dan menyudutkan objek dakwahnya. Wali Songo hadir mengusung taktik dakwah romantikus dan manusiawi sehingga dampak positif yang diraihnya dapat berjalan langgeng abadi. Wali Songo merupakan type pejuang humanis. Prinsip-prinsip humanisme itulah yang dikedepankan dalam menghadapi segala rintangan.


Wali Songo seolah berbagi peran antar satu dengan lainnya dengan menyorongkan kebenaran. Namun dalam hal-hal prinsip-prinsip seperti kesantunan, humanisme, para Wali Songo berada dalam garis yang sama. Sedangkan dari aspek metodologi dakwahnya, Wali Songo hadir dengan potret beragam. Raden Umar Said misalnya, ia dalam berdakwah mengikuti arus kebudayaan masyarakat setempat seperti main gamelan, beduk dll. Dengan langkah persuasif demikian itu, ajaran Islam iklusif dapat di-infiltrasilisir ke dalamnya.


Dakwah garis keras dewasa ini semakin diminati masyarakat. Banyak dugaan yang menyertainya. Salah satunya adalah dalil-dalil dan propoganda bahwa Islam telah mengalami diskriminasi oleh elit penguasa. Perasaan sinisme ini didengungkan dengan nada terbuka maupun dengan menggunakan media sosial sebagai sarananya. Banyak pengikut yang terjebak dalam Islam garis keras adalah warga NU. Atas hal ini, NU memberikan arahan dan tetap konsisten dengan manhaj NU yang telah digariskan oleh para ulama waliyullah. Disisi lain, Islam garis keras digelindingkan oleh elit politik yang memanfaatkan kekuatan mereka sebagai ajang untuk meraih kekuasaan. Deskriptif terakhir ini semakin hari semakin menguat. Media sosial semakin dihantui oleh jebakan dan retorika sinisme luar biasa yang disorongkan kepada rivalnya.


Islam garis keras bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia yang terkenal santun dan murah hati. Warga Indonesia mewarisi tradisi para leluhur Republik yang bersikap santun dan arif atas segala persoalan dan kontestasi politik. Taman surgawi nan indah itu kini diam-diam mulai tererosi oleh segelintir propogandis yang haus akan kekuasaan. Mereka, para pengail di air keruh itu, tidak belajar bagaimana negara-negara Arab yang porak poranda berawal dari isu caci maki di media sosial. Mereka lupa bahwa dibalik problem ideologis itu terdapat tangan-tangan tidak kentara yang bertujuan untuk mengadu domba.
Betapa miris jika bangsa kita yang santun dan ramah ini berubah menjadi bangsa yang radikal dan ekstrimis. Bayangkan, di negeri-negeri Arab yang berkobar perang saudara itu, berapa ratus ribu nyawa yang melayang, berapa gedung dan sarana yang sudah luluh lantak, berapa juta Dolar kerugian keuangan mereka, berapa sengsara dan remuk psikologis mereka, berapa berantakan lingkungan mereka dan sebagainya!

Ini semua berawal dari arogansi bangsanya sendiri dan permainan para pengail politik di negeri itu. Jika bangsa kita ingin tetap utuh dan bersatu, persaudaraan tetap terjalin, solidaritas tetap kokoh, ukhwah tetap terajut, maka singkirkan perasaan benar sendiri dan bangunlah kembali jalinan ukhwah yang sempat putus itu. Maka, NU, dengan segala resiko dan tantangan, akan tetap berada digaris terdepan untuk memperjuangkan keutuhan negara kesatuan bangsa Indonesia dari rongrongan kelompok manapun.


Islam garis keras pada pokoknya tidak akan bertahan lama dan secara naluri akan kandas dengan sendirinya. Karena umat manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah dan suci. Kesucian inilah yang kelak menjadi karakter manusia dalam berbangsa dan negara. Mereka juga lupa, bahwa manusia dilahirkan dari “rahim”seorang ibu. “Rahim” pada dasarnya adalah rahmah atau kasih sayang. Dan setiap orang yang lahir ke muka bumi secara otomatis dibekali prinsip-prinsip rahmah dan kasih sayang.


Maka, begitu naif orang yang lahir dalam keadaan fitrah dan rahmah dari rahim ibu itu jika tiba-tiba galak dan arogan. Arogansi bukanlah sifat naluri manusia. Ia pada hakikatnya adalah tersandera oleh nafsu hewani. Nafsu hewani, jika telah merasuk dalam diri mereka, maka yang muncul darinya adalah kekerasan dan menganggap benar sendiri.
Inilah yang harus kita waspadai bersama. Jangan sekali-kali persoalan ini bangkit dan tumbuh besar. Sebab, jika hal ini terus-menerus menyala-nyala, maka potensi konflik komunal-horizontal sulit diredam. Dalam hal ini, Gus Dur telah mewanti-wanti. Gus Dur juga sudah mencium aroma sinisme orang-orang tertentu yang menilai kita anti Islam karena (kita) menolak Islam garis keras itu. Gus Dur sendiri merupakan arsitek prinsip-prinsip humanisme. Ia tak segan-segan untuk mendamprat orang yang secara keji menistakan manusia. Baginya, menghormati manusia, berarti menghormati penciptanya. Bagi Gus Dur, Islam garis keras tak mudah untuk meyakinkan mereka, namun apapun duri penghalangnya, ia tak lebih sekedar topeng. Dan kita harus mentap menghadang mereka.
NU, Kiai Khollil dan humanisme merupakan satu mata rantai yang tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Ia merupakan tiga kompenen segi tiga sama sisi dalam roda becak kehidupan. NU lahir bukan sekedar untuk melestarikan prinsip-prinsip manhaj sunni. NU lahir untuk menjadi pelopor perdamaian dan persaudaraan dan sekaligus sebagai prakarsa atas sugesti humanisme. Kiai Kholil memberikan inspiratif atas berdirinya NU, dan ia berharap kelak organisasi para kiai ini dapat memberikan air kesejukan saat kegersangan melanda nurani manusia. Berkat Kiai Kholil, NU dapat lahir sebagai power penting di Indonesia, yang berhalauan lunak dan toleran. Tanpa Kiai Kholil, tanpa NU dan tanpa humanisme akan sulit memastikan arah Indonesia yang akan datang!
Kiai Kholil dan NU adalah purnama bangsa dan lentera jiwa. | Abd. Mannan Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *