Artikel

SOWAN KIAI UPAYA MENGAIS BAROKAH

Ada cita rasa tersendiri dalam hidup orang-orang pesantren. Ada seorang panglima tertinggi yang otoritasnya tak dapat dibantah oleh siapapun, yakni seorang kiai. Kehidupan orang-orang pesantren tak ubahnya seorang sahabat nabi dihadapan Rasulullah. Tidak terbesit dalam benaknya diluar kendali Rasulullah. Walaupun Rasulullah sendiri memberikan kran kebebasan bagi para sahabat untuk merekonstruksi pikiran-pikirannya. Tapi seakan gamang. Antara seorang kiai dengan santri selalu ada ikatan emosional, sosial bahkan pribadi. Salman al-Faisi memberi saran agar Rasulullah menggali parit disekitar Madinah untuk menjebak lawan. Rasulullah terkesima dan setuju. Jebakan itu berguna untuk memanipulasi lawan hingga mundur.

Satu rantai dari hal itu adalah tradisi sowan santri pada kiai. Sowan bagi seorang santri adalah tradisi luhur yang turun temurun dari berbagai abad silam telah menjadi ruh dalam kehidupan seorang santri. Memang nusantara sebagai Negara kepulauan memiliki ciri khas unik. Salah satu yang menjadi dominasi Negara nusatara adalah berdirinya pondok-pondok pesantren. Jauh sebelum Republik ini berdiri, pesantren telah eksis di tengah-tengah komunitas masyarakat luas dengan misi yang hampir sama yakni pemberdayaan kualitas masyarakat dan dakwah sebagai ujung tombak dalam kehidupan orang-orang pesantren. Dibalik sowan santri, terkadang lahir inspirasi dan motivasi. Dibalik pancaran sinar wajah kiai yang menawan, santri merasa teduh dan seakan tidak ada bosan-bosannya untuk terus berkhidmat kepadanya.

Konon, begitu kuatnya inspirasi seorang kiai, ketika Kiai Hasani Sidogiri, hadir saat ada pertemuan-pertemuan di Pendopo Bupati. Dibalik kehadirannya tidak lahir sepatah katapun, tapi sosoknya membuat suasana menjadi teduh dan kebijakan yang ditempuh pemerintah berorientasi pada masyarakat kecil. Sowan kiai memang tidak dapat diriset dalam aspek kualitas ilmiahnya. Belum ada laboratorium ilmiah yang membuktikan rahasia dibalik sowan ke kiai. Atau mungkin telah lahir sebuah investigasi akademis untuk menggali aspek-aspek filosofis bagi seorang santri ketika sowan ke kiai. Tentu saja soal sowan ke kiai bukanlah aspek intelektualisme atau domain para ahli fisika. Para santri ketika menghadap seorang kiai tidak ada muatan atau unsur lain selain karena untuk meraih barokah. Santri yakin bahwa kiai adalah sosok yang luar biasa, baik dalam hal keilmuan, aspek kapasitas, integritas serta wawasan.

Sowan kiai sebenarnya juga dilakukan oleh orang lain diluar santri aktif. Misalnya alumni, tetangga, masyarakat umum dan segenap lapisan masyarakat. Alumni yang lama diperantauan pastinya rindu pada kiai dan satu-satunya jalan yang ditempuh adalah sowan guna mengais barokah dan mencurahkan isi hati demi menggali ilmu dan hikmat dari kiai. Ikatan antar santri dan kiai tidak mengenal batas. Bagi santri tidak ada mantan guru. Tujuan dibalik sowan adalah untuk mengais barokah kiai serta memohon ridho dan manfaat darinya. Santri bukanlah agen atau jurkam yang sowan ke kiai dengan motif-motif tertentu. Santri dengan hati jernih dan suasana hati kosong hadir ke kiai tidak untuk meminta proyek ini dan itu. Santri sowan ke kiai bukan untuk memintanya berbuat ini dan itu yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Ketika sowan pada kiai, santri tidak muluk-muluk mengejar prestasi apapun, misalnya ingin menjadi doktor atau meminta brosur untuk menggali wawasan pesantren. Murni demi meraih barokah kiai. Semoga kita senantiasa mendapatkan ridho serta tetesan doanya. | Abd. Mannan Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *