Artikel

SPIRIT IDZUL ADHA: BELAJAR BERKORBAN DARI NABI IBRAHIM

Idzul Adha kali ini tetap harus ceria, tetap harus disambut dengan bahagia, kendati pandemi semakin mencekam. Sholat idul Adha yang hanya bisa kita laksanakan setahun sekali harus tetap kita laksanakan, meskipun ditempat terbatas atau dirumah sendiri bersama keluarga.

Pemerintah sendiri tidak melarang kita melakukan sholat id, sebab yang dilarang adalah sholat berjamaah di masjid, karena akan menimbulkan kerumunan yang beresiko pada naiknya penyebaran covid-19. Ini mungkin yang menjadi salah satu rintangan yang mengurangi gairah keceriaan di hari raya. Sebab disamping tidak bisa bergerak bebas ke lapangan atau ke masjid untuk berkumpul dengan banyak orang juga kita harus membatasi diri untuk tidak banyak bertandang ke rumah sanak saudara dan tetangga.

Memang kita saat ini harus merayakan Idzul Adha tidak seperti tahun-tahun yang lalu saat pandemi belum datang mengganggu aktivitas kehidupan. Ada keceriaan yang kurang saat ini yang mungkin banyak dirasakan orang. Tapi seperti apapun ketatnya kondisi saat ini, kita tidak boleh abai pada makna penting dibalik perayaan Idzul Adha yang sakral dan mengandung pesan pengorbanan yang agung.

Dalam perayaan Idzul Adha, pesan tersirat yang perlu kita resapi adalah pengorbanan nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk mengorbankan anaknya Ismail untuk disembelih. Kita saat mendengar penyembelihan ini tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah yang harus rela menyembelih anaknya yang masih kecil. Sebuah tantangan yang berat dan tak biasa.

Pengorbanan nabi Ibrahim sejatinya berat bukan saja karena harus melepas buah hatinya, tapi juga beliau harus berlapang dada menyembelih buah hatinya sendiri demi melaksanakan titah tuhan. Pada setiap perayaan Idzul Adha kita sebenarnya selalu mendengar kisah dibalik aksi pengorbanan nabi Ibrahim yang cukup dramatis itu, tapi kita sendiri sering hanya mengenangnya sebagai sebuah pesan historis. Kita lupa bahwa pengorbanan nabi Ibrahim – yang konon para malaikat takjub pada peristiwa menegangkan itu – memiliki makna spiritual yang sangat berarti bagi umat manusia dalam menapaki jalan kehidupan sebagai hamba.

Paling tidak ada dua hal pokok yang bisa kita dapatkan dari kisah pengorbanan nabi Ibrahim itu. Pertama, kita berkorban karena Allah. Bukan karena yang lain. Sebab kerapkali pengorbanan kita selalu mengharap imbalan setimpal. Sebuah cara pandang pragmatis. Kedua, Mengorbankan suatu yang berharga. Sebab yang berat untuk dikorbankan adalah sesuatu yang sangat berharga dalam pandangan kita. Dalam kisah Nabi Ibrahim, Allah meminta anaknya Ismail sebagai sebuah kurban dan itu adalah sebuah pengorbanan besar, karena bagaimanapun anak adalah pelipur mata yang sangat berharga.

Umat Islam terutama di hari raya idul Adha ini dituntut untuk benar-benar belajar dari pengorbanan nabi Ibrahim yang berat dan berdarah-darah itu bahwa keadaan kita ditengah perkembangan Pandemi yang kian meningkat jauh lebih ringan, jauh lebih mudah. Saat ini kita harus belajar berkorban dalam arti yang nyata. Ditengah krisis ini minimal kita mengorbankan diri untuk membantu orang lain atau paling tidak tidak melukai hati orang lain yang sedang mengalami duka. Dalam belajar tentang pengorbanan ini kita diharuskan tabah dan sabar, terutama dalam menghadapi situasi buruk covid-19 serta gejala penyakit lain yang saat ini makin meningkat dan mengkhawatirkan.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *