Tasawuf

TARIAN SUFI JALALUDDIN RUMI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Jalaluddin Muhammad bin Muhammad Al-Balikh Al-Qunuwi atau yang lebih akrab disapa dengan Rumi adalah seorang ulama, penyair sekaligus sufi yang lahir di Balkh Afganistan tepat pada tanggal 06 Rabiul Awal 604 H. atau 30 September 1207 M. Beliau lebih akrab dipanggil dengan Rumi lantaran sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (Turki) yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Rumi mulanya adalah salah satu ulama besar yang biasa memberikan fatwa kepada semua elemen baik dari kalangan santri atau pelajar dan masyarakat. Hal ini sangat wajar sekali mengingat ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, juga seorang ulama besar bermadzhab Hanafi.

Di usianya yang ke-48 beliau lebih suka mendalami dunia sufistik dan syair. Hal ini lantaran beliau bertemu seorang sufistik Islam bernama Syamsuddin Al-Tabrizi. Rumi melihat dan menilai bidang keilmuannya sangat mumpuni sehingga sangat penting sekali baginya untuk berguru kepadanya, dan pada akhirnya beliau diterima sebagai muridnya. Selama berguru pada Tabrizi beliau selalu menulis syair-syair sastra mistis kemudian dikodifikasi dan dibukukan dengan diberi nama Syams Tabriz.

Diantara karya syairnya yang sangat luar biasa dan di dalamnya sarat dengan mistis adalah Matsnawi, sebuah buku yang terdiri dari enam jilid, berisikan dua puluh ribu tujuh ratus bait syair.

Ketika Syamsuddin Tabriz sebagai guru spiritualnya meninggal, beliau menyadari bahwa setiap manusia pasti akan mati, kemudian beliau mengekspresikan kesedihannya dengan berputar-putar. Gerakan berputar-putar yang dilakukan Rumi ini menjadi cikal bakal lahirnya tarian sufi dalam thariqah Maulawiyah atau Jalaliyah.

Thariqah dengan model tarian sufi ini merupakan thariqah yang pertama kali didirikan oleh Jalaluddin Al-Rumi di negara Turki, dimana tarian ini mengandung makna filosofi yang sangat banyak mulai dari gerakan badan, pakaian dan lainnya.

Tarian sufi ini dikenal dengan istilah sama’ yang berarti bergerak dalam suka cita sambil mendengarkan nada-nada musik sembari berputar-putar sesuai dengan arah putaran alam semesta.

Terdapat rahasia tersembunyi dalam sama’. Musik dan tarian masing-masing menyimpan muatan spiritual. Musik yang mengiringi tarian tersebut merupakan media untuk membangkitkan gairah kalbu agar dapat mengingat Tuhan, yang bisa mengantarkan manusia ke dalam keadaan dzauq (suatu kondisi dimana manusia merasakan cinta kepada Allah sedemikian besarnya, sehingga mereka ingin segera bertemu dengan Allah), menuju asal mereka sendiri yaitu ‘ketiadaan’.

Sedangkan tarian dengan memutar tubuh mengibaratkan elektron yang bertawaf mengelilingi intinya menuju sang Maha Kuasa. Dengan rotasi perputaran waktu thariqah ini tetap eksis dan berjalan sampai saat ini.

Sebenarnya tarian sufi adalah salah satu cara seorang salik untuk sampai pada level makrifat/usul kepada Tuhan. Karena memang jalan untuk sampai pada level makrifat beraneka ragam, ada yang hanya memfokuskan diri dengan berdzikir menggunakan nada keras, belajar mengajar, khidmah dan ada juga yang menari sebagaimana yang dilakukan oleh Jalaluddin Rumi ini.

Lantas bagaimanakah legalitas tarian sufi ala Jalaluddin Rumi ini dalam perspektif Fikih? Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan dalam kitabnya Al-Fatawi al-Hadits li Ibn Hajar al-Haitami:

( وسئل )نفع الله به عن رقص الصوفية عند تواجدهم هل له أصل ( فأجاب )بقوله نعم له أصل فقد روى في الحديث أن جعفر بن أبي طالب رضي الله عنه رقص بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم لما قال له أشبهت خَلقي وخُلقي وذلك من لذة هذا الخطاب ولم ينكر عليه صلى الله عليه وسلم وقد صح القيام والرقص في مجالس الذكر والسماع عن جماعة من كبار الأئمة منهم عز الدين شيخ الإسلام ابن عبد السلام

Ibnu Hajar Al-Haitami ditanya (semoga Alloh memberikan manfaat) tentang tarian yang dilakukan para sufi ketika dibuai lezatnya dzikir, apakah hal itu ada dalil/dasarnya?
Beliau menjawab: Iya benar, itu memang ada dalil/dasarnya. Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa sesungguhnya Sayidina Ja’far bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu menari-nari di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tatkala Beliau menyanjungnya seraya berkata : “Wahai Ja’far sungguh rupa dan tabiatmu mirip denganku”. Sayidina Ja’far menari sedemikian ini tidak lain hanya karena terbuai rasa lezat atas sanjungan Nabi dan Nabi-pun tidak mengingkari apa yang dilakukan Sayidina Ja’far. Lagi pula, telah diriwayatkan suatu pendapat dari para pembesar imam termasuk diantaranya adalah Syaikh al-Islam Izzuddin bin Abdissalam bahwa diperbolehkan berdiri dan menari-nari dalam suatu majelis dzikir dan majelis yang berisi penyimakan (ilmu).

Kesimpulan dari apa yang sudah dipaparkan di atas adalah bahwa tarian sufi semacam ini sebenarnya adalah tarian ritual keagamaan dan tidak keluar dari ajaran Islam, bahkan tarian semacam tarian sufi ini ada pada masa Rasulullah sebagaimana dilakukan oleh Sayidina Ja’far seperti telah disebutkan di atas. Sangat tidak elegan kalau kita sampai berprasangka tarian semacam ini tidak sesuai dengan nilai-nilai hukum Islam. | Moch. Yusli Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *