Artikel

URGENSI PESANTREN DAN KITAB KUNING Part 1

Pesantren merupakan pendidikan paling sepuh di tanah air. Sejak pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, pesantren sudah bergerak memimpin umat dengan wawasan keagamaan juga wawasan kebangsaan. Pesantren lahir dan tumbuh seiring dengan denyut perkembangan bangsa Indonesia yang penuh pahit dan getir. Mulai era penjajahan, revolusi, perjuangan fisik sampai pada dimensi spiritualitas, pesantren merupakan lembaga yang piawai. Pesantren dan bentuknya yang sederhana, justru didalamnya menyimpan pesona intelektual dan tradisionalisme modernis. Modernisme bukanlah hak asuh kelompok islamisme dan reformisme. Pesantren pada sendi-sendi tertentu sama sekali tak lepas dari bibit modernisme, setidaknya dalam pemikiran keagamaan yang dikemas dengan wawasan kebangsaan dan nasionalisme.

Sebagai lembaga independen maka pesantren itu hidup matinya ditentukan oleh masyarakat. Swadaya masyarakat dalam dunia pesantren, bersifat segalanya karena pesantren tidak boleh dan tidak dapat bergantung pada negara baik dalam hal keuangan maupun management. Pesantren merupakan lembaga swadaya masyarakat yang sebenarnya karena ia menjadi pialang perubahan mental dan kualitas masyarakatnya. Ia hadir dan tumbuh memberikan advokasi pada masyarakat tentang nilai-nilai moralitas dan kebangsaan. Nilai-nilai itulah sulit dipisahkan di dunia pesantren karena literasi-literasi klasik yang dikaji itu mendorong ke arah itu.

Sejak dahulu pesantren merupakan lembaga yang unik, independen dan menganut asas kekeluargaan. Di pesantren santri dididik dengan pola tingkah laku sosial keagamaan. Di pesantren santri bebas berkembang dan tumbuh dalam suasana intelektual yang dikehendaki selama dalam bingkai norma sosial. pesantren juga menganut sistem kekeluargaan, tidak ada management yang benar-benar formal lepas dari bingkai kekeluargaan. Pesantren itu tidak rumit, sederhana, dan terikat oleh management formal yang menjebak. Pesantren melokalisir kebudayaan internal untuk menyerap aspirasi dunia luar sembari tetap mendahulukan adaptasi. Pesantren senantiasa teguh mempertahankan jati diri dan eksistensinya walaupun pesantren tidaklah sekolot yang mereka bayangkan. Pesantrenlah yang menjadi wahana penyerapan nilai-nilai Islam tradisional yang dewasa ini tampak semakin cemerlang kepermukaan.

Pesantren secara spiritualitas memiliki kekayaan yang luar biasa. Spiritualitas inilah yang mungkin saja, tidak diperoleh di lembaga lain di dunia pendidikan. Memang kegersangan batin seseorang atau juga efek metodologi pendidikan yang mengesampingkan nilai-nilai itu menjadikan inti pendidikan kehilangan spirit rohaninya. Inilah sisi lain dunia pesantren yang tengah digandrungi oleh segenap pihak. Mulai elit negara, cendikiawan, pemikir dan kalangan birokrat. Mereka tengah tertarik terhadap sistem pesantren yang dapat bertahan terhadap arus dunia global dan tetap eksis pada nilai-nilai keluhuran. Inilah daya pikat pesantren yang tidak dimiliki lembaga lain. | Abd MannanHasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *