Artikel

URGENSI PESANTREN DAN KITAB KUNING Part 2

Pesantren juga sudah menyiapkan lembaga-lembaga pendidikan formal sebagai solusi. Selain dapat mengembangkan wawasan keagamaan, di pesantren para santri dapat mengasah intelektualismenya dengan wawasan ilmu modern, perguruan tinggi dan jenjang pendidikan formal juga sudah siap saji untuk membekali santri dari gelombang dan tantangan dunia kontemporer. Meskipun dunia pesantren menyajian lembaga pendidikan umum sebagaimana yang marak dewasa ini, namun mutu dan kualitas pendidikan diniyahnya (agamanya) juga tak otomatis bergeser. Pendidikan formal justru mendorong santri dapat bersaing secara akademis dengan dunia luar setelah dirinya sukses melalui rentetan gemblengan. Maka tidak heran jika anak-anak pesantren di tengah masyarakat dapat berkontribusi dibanyak lini. Hal ini tidak lepas dari arah kebijakan pimpinan pesantren yang bersikap bijak dan arif atas tantangan zaman. Pesantren model demikian orang-orang menyebutkan dengan pesantren semi salaf.

Meskipun dunia barat, pemikir reformis dan sebagian sarjana muslim mutakhir menilai kitab kuning bukanlah bagian dari peradaban ilmiah, namun realitas memberikan fakta mencengangkan. Kitab kuning atau turats merupakan legenda warisan intelektual ulama-ulama klasik yang memberikan kontribusi besar pada perubahan pemikiran dan arah kehidupan umat manusia. Kitab kuning merupakan ciri khas pesantren yang mengkaji ilmu-ilmu keislaman sebagai geliat dari arah intelektualisme pemikir klasik. Ulama-ulama atau pemikir abad pertengahan mencurahkan segala upaya untuk menuangkan ide-ide agamisnya ke dalam tulisan dan ternyata efektif. Dengan model demikian maka generasi penerus dapat menggali dan menelaah kitab-kitab itu untuk kemudian di dalami sebagai samudera ilmu pengetahuan.

Definisi kitab kuning adalah kitab berwarna kuning yang dilengkapi dengan syarah pada sisi tengah margin atau bersambung dengan pokok (matan). Literasi ini adalah ciri khas pesantren yang lumrah dimiliki oleh anak-anak pesantren. Kitab kuning merupakan sebuah pusaka legendaris yang menginspirasi generasi Islam akan masa-masa keemasan dunia Islam tempo dulu. Nalar kritis dan studi intelektual ulama generasi terdahulu memiliki momentum fenominal yang dibuktikan dengan lahirnya peradaban kitab kuning yang monumental. Berkah kitab kuning, pesantren memesona dunia luar dibalik ketangguhan pendidikan tradisional itu terhadap arus dunia yang begitu cepat. Buktinya, kejayaan kitab kuning pernah diriset oleh peneliti asing kenamaan L.W.C. van deg Berg. Menurut Berg, kurikulum pada tahun 1886 merinci koleksi kitab kuning yang ada dan dipelajari di Pesantren Jawa dan Madura mencapai 50 judul. Pada tahun 1990, Martin van Brueinessen, menemukan sedikitnya 900 judul yang digunakan pesantren sebagai kurikulum permanen. Martin juga mengunjungi kios-kios kitab kuning, antara lain, Dar al-Fikr yang berdomisili di Jakarta dan Surabaya. Ia kagum dengan begitu agungnya peradadan Islam.
Dunia pesantren mengenal dua tepologi dalam tradisi literasi. Satu adalah buku untuk tulisan yang ditulis dengan khuruf Roman. Dua, pesantren menyebutkan literasi itu dengan sebutan kitab untuk manuskrip atau tulisan Arab. | Abd Mannan Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *