Artikel

URGENSI PESANTREN DAN KITAB KUNING Part 3 – Selesai

Sekitar tahun 60-an arus aliran organisasi keagamaan di tanah air terbagi dalam dua kategori: Muhammadiyah dan NU. Muhammadiyah diklaim sebagai kelompok modernis. Sedangkan NU disebut sebagai kelompok tradisionalis. Nah, kelompok tradisionalis inilah yang mewarisi kebudayaan ulama salaf dalam kajian dan pengembangan kitab kuning.

Untuk menyebutkan literasi keilmuan Islam dalam studi yang lebih marak lahirlah definisi kitab kuning bersamaan dengan impor kertas dari Timur Tengah sekitar abad ke-20. Dan literasi yang menggunakan tulisan huruf Indonesia-Roman dituliskan di atas kertas putih sebagai tanda karya tulis di luar tradisi keilmuan Islam. Sebelum teknologi berkembang jauh, literasi dunia Islam sudah dikenal sekitar abad 18. Hal ini dapat dibuktikan dengan manuskrib Jawa dalam beberapa disiplin ilmu keislaman yang telah dilakukan proses scenning dalam bentuk digital dari tiga pesantren besar di Jawa Timur antara lain, Pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Tarbiyah al-Thalabah, Lamongan dan Pesantren Tegal Sari, Ponorogo. Ini semua adalah prestasi akademik dan sekaligus wahana intelektual yang dapat menggugah idealisme generasi muda.

Secara kategoris, literasi keilmuan pesantren dapat dibagi dalam: 1) ilmu gramatika arab; 2) ilmu teologi atau akidah; 3) ilmu fikih atau ilmu yurisprudensi Islam; 4) tafsir atau hadis;5) akhlak atau sufisme; 6) kitab-kitab lain sebagai penunjang. Martin, peneliti pesantren asal Belanda itu tertarik dengan keunikan dan tradisi pesantren tradisionalis yang tetap konsisten dengan dinamika zaman tanpa mengabaikan aspek-aspek modernisasi. Menurut Martin, jika dilakukan statistika, kitab kuning jumlahnya mencapai 9 ribu eksemplar dari segala kategori disiplin ilmu yang terdiri dari 500 judul itu. Selain itu, ulama Indonesia, juga tak kalah produktif. Ulama Nusantara menorehkan maha karyanya tak kurang dari 100 judul koleksi dengan menggunakan bahasa Arab. Sedangkan sebuah tradisi klasik yang biasa dilakukan di pesantren adalah memberikan arti (makna) atau tanda gramatika Arab di bawah teks. Walhasil, santri dan kitab kuning tak ubahnya sepasang suami-istri. | Abd. Mannan Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *