Kajian

URGENSITAS WAKTU MELEBIHI UANG: NGAJI AYYUHAL WALAD (SERIAL-02)

Imam Al-Ghazali, sebagai ulama yang memiliki kedalaman ilmu, beliau sangat piawai dalam menulis pesan mutiara yang sarat makna dan sangat menyentuh. Penguasaan beliau terhadap berbagai bidang keilmuan membuat beliau mudah melahirkan kontribusi pemikiran yang sangat cemerlang, sehingga siapapun yang membaca karangan beliau akan diarahkan bagaimana memandang kehidupan yang hakiki dengan menggunakan analogi filosofis yang sangat mengagumkan. Dalam kitab Ayyuhal Walad yang ditulisnya, kita seolah diajak berfikir oto-kritik, kritis terhadap diri sendiri, membenahi kelemahan diri serta melakukan dekonstruksi pada “pemikiran nakal” yang kerap muncul mengelabui jiwa kita, sehingga kadang kita menjadi terbuai dengan sensasi kenikmatan sesaat.

Setelah kita menyimak dengan baik ungkapan beliau dalam tulisan sebelumnya, dalam kelanjutan tulisan beliau ini, kita akan menemukan nasehat pertama beliau untuk “walad” nya yang sedang merasakan kegelisahan itu.

Beliau menulis,

أيها الولد، من جملة ما نصح به رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته قوله عليه السلام: علامة إعراض الله تعالى عن العبد إشتغاله بمالايعنيه. وإن امرأة ذهبت ساعة من عمره في غيرماخلق له من العبادة لجدير أن تطول عليه حسرته ومن جاوزالاربعين ولم يغلب خيره على شره فليتجهز إلى النار. وفي هذه النصيحة كفاية لأهل العلم.
”Wahai Anakku, diantara nasihat Rasulullah saw kepada umatnya ialah, bahwa diantara tanda-tanda Allah berpaling dari seseorang adalah orang itu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Dan, jika satu saat saja umur seseorang hilang, karena digunakan bukan untuk yang semestinya ditentukan Allah, maka patutlah ia menyesalinya tanpa putus-putus. Juga, barangsiapa yang umurnya melewati 40 tahun, sedangkan amal baiknya belum melebihi amal jahatnya, maka siap-siaplah ia masuk neraka. Nasehat ini sudah cukup bagi Ahlul ilmi”

Nasehat pertama imam Al-Ghazali diatas mengetuk hati terdalam, tajam serta menanamkan spirit religi yang kuat dalam batin kita. Inti nasehat beliau diatas adalah bagaimana sekiranya kita memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidak lebih. Beliau sampai mengungkapkan bahwa nasehat pertama beliau ini sudah cukup. Tidak perlu nasehat yang lebih lebar lagi. Sebab memanfaatkan waktu dengan baik adalah standar primer. Orang berilmu tentu harus mengedepankan hal-hal primer sepanjang waktunya, serta menghindar dari hal-hal sekunder, agar tidak rugi dalam menempuh perjalanan panjang dalam hidupnya.

Imam Al-Ghazali menempatkan soal waktu pada posisi nasehat yang pertama, karena jika waktu sudah kita habiskan sebaik mungkin, tentu hati kita tidak akan resah dan gelisah tentang apa yang harus kita lakukan untuk menggapai hari yang cerah di masa depan. Sebab waktu yang sudah kita gunakan dengan baik menjadi bekal amal yang akan menentukan posisi terbaik di alam akhirat. Itulah sebabnya imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa waktu yang hilang sia-sia harus disesali sepanjang hidup. Waktu adalah uang yang sudah tentu kita akan rugi sekali kalau kita buang begitu saja. Bahkan waktu melebihi uang itu sendiri, sebab uang boleh jadi kita jumpai lagi ketika uang itu sudah habis, sementara waktu yang sudah berlalu tidak akan kembali lagi. Kita selalu dikejar oleh waktu yang terus berputar.

Begitu pentingnya waktu sampai banyak orang menganggap waktu adalah uang, time is money. Ada yang menilai waktu adalah emas, time is gold. Hamba Allah yang selalu merindukan surga menganggap waktu adalah anugerah Tuhan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin, sebab waktu adalah misteri besar. Kita tidak tahu kapan waktu kita berakhir. Kapan kita berhenti bernafas. Pertanyaan “kapan dan kapan” adalah soal waktu yang segalanya hanya tuhan yang tahu.
WALLAAHU A’LAM.

_Oleh: Moh. Jufriadi_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *